Halaman

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2019

Keutamaan Tauhid (pdf)


Bismillah,

Tauhid adalah kunci keselamatan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Seorang mukmin hendaknya benar-benar paham KeutamaanTauhid, sehingga dia akan senantiasa berusaha menggapai ridha Allah 'Azza wa Jalla dengan memurnikan tauhidnya.

Berikut ini link untuk download penjelasan singkat mengenai hal yang penting ini, semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan menjadi ladang amal kebajikan bagi penulisnya, aamiin...

_______________
Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.

Rabu, 22 Mei 2019

Makna Tauhid (PDF)

Bismillah,

Tauhid adalah kunci keselamatan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Seorang mukmin hendaknya benar-benar paham makna Tauhid dan jenis-jenisnya, sehingga dia tidak terjatuh dalam perbuatan syirik dan berbagai bentuknya.

Berikut ini link untuk download penjelasan singkat mengenai hal yang penting ini, semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan menjadi ladang amal kebajikan bagi penulisnya, aamiin...

Klik di sini untuk download !

_______________
Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.

Minggu, 19 Mei 2019

Makna dan Konsekuensi Dua Kalimat Syahadat (PDF)

Bismillah,

Dua Kalimat Syahadat adalah kunci seseorang masuk Islam. Seorang mukmin selain harus mengikrarkan persaksiannya bahwa "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah", dia juga harus benar-benar memahami makna dan konsekuensi dari masing-masing Dua Kalimat Syahadat tersebut.

Berikut ini link untuk download penjelasan singkat mengenai hal yang penting ini, semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan menjadi ladang amal kebajikan bagi penulisnya, aamiin...

Klik di sini untuk download !

_______________
Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.

Rabu, 17 April 2019

Tetaplah Amar Ma'ruf Nahi Mungkar




Bahaya Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
{لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ . كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ}
Artinya: “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [QS. Al-Maidah: 78-79]

Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا»
“Perumpamaan kaum yang menegakan hukum Allah dan kaum yang melanggarnya, bagaikan sekelompok orang yang terbagi di atas perahu; sebagian dari mereka menempati ruangan bagian atas, dan sebagian lagi menempati ruangan bawah. Maka kelompok yang berada di ruang bawah apabila ingin minum, mereka harus melewati orang-orang yang berada di ruang bagian atas. Mereka mengatakan: “Seandainya kita membuat lubang di ruang bawah pastilah tidak akan mengganggu rekan-rekan kita yang berada di ruang atas.” Apabila orang-orang yang berada di ruang atas membiarkan perbuatan orang-orang yang berada di ruang bawah niscaya mereka akan tenggelam semua. Sebaliknya, apabila mereka menahan perbuatan mereka mereka pun selamat, dan niscaya selamat semuanya.” [HR. Bukhari: 2493]

Dari Hudzaifah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ»
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau kalau tidak Allah benar-benar akan menurunkan adzab kepada kalian, dan apabila kalian berdoa kepada-Nya tidak akan dikabulkan.” [HR. Tirmidzi: 2169, hadits hasan]

(Baca juga: Adab-adab Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Penjelasan:
Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan perkara yang sangat penting; yang dengan izin Allah akan membawa keselamatan bagi masyarakat. Tidak tegaknya amar ma’ruf nahi mungkar menjadi sebab lemahnya umat dan kehancurannya serta turunnya adzab, sebagaimana apa yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

Faidah:
1. Meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar menjadi sebab laknat atas Bani Israil.
2. Meninggalkannya menjadi sebab kerusakan dan kehancuran masyarakat.
3. Meninggalkannya menjadi sebab tidak dikabulkannya do’a.
4. Meninggalkannya menjadi sebab turunnya adzab yang menimpa secara umum (baca: baik para pemaksiat maupun orang shalih yang tidak menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar).

Diterjemahan oleh: Ummu Fathin dan Abu Fathin, Lc.
Dari Kitab: Ad-Durus Al-Yaumiyah min As-Sunan wa Al-Ahkam Asy-Syar’iyah
Karya: Rasyid bin Husain Al-Abdul Karim
Wonogiri, 17 April 2019

Senin, 15 April 2019

Jangan Berani-berani Mengganggu Orang Shalih !




Peringatan dari Memusuhi Orang Shalih

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
{إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ}
Artinya: “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” [QS. Al-Hajj: 38]

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ»
Artinya: “Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku, Aku umumkan perang dengannya. Tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai dari sesuatu yang aku wajibkan atasnya, dan dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang mana dia mendengar dengannya, dan menjadi penglihatannya yang mana dia melihat dengannya, dan menjadi tangannya yang mana dia membentangkannya, dan menjadi kakinya yang dia berjalan dengannya. Jika meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan-Ku maka aku lindungi dia.” [HR. Bukhari: 6502]

Dari Jundub bin Abdullah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ، فَلَا يَطْلُبَنَّكُمُ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ، فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ، ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ»
“Barangsiapa shalat shubuh maka dia dalam jaminan Allah. Maka dari itu jangan sampai Allah menuntut kepada kalian sesuatu dari jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Allah tuntut dia sesuatu dari jaminan-Nya niscaya Dia akan menemukannya, dan menelungkupkan di atas wajahnya dalam neraka Jahanam.” [HR. Muslim: 657]

Penjelasan:
Wali (kekasih) Allah adalah hamba-hamba-Nya yang shalih yang taat kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah memuliakan mereka dan memperingatkan kita dari memusuhi dan mengganggu mereka tanpa hak. Dan bahwasannya Dialah yang akan membela mereka, menjamin perlindungan dan menolong mereka.

Faidah:
1. Peringatan dari memusuhi kekasih Allah.
2. Sesungguhnya Allah yang akan membela dan menjamin mereka.

Diterjemahan oleh: Ummu Fathin dan Abu Fathin, Lc.
Dari Kitab: Ad-Durus Al-Yaumiyah min As-Sunan wa Al-Ahkam Asy-Syar’iyah
Karya: Rasyid bin Husain Al-Abdul Karim
Wonogiri, 15 April 2019

Kamis, 11 April 2019

Mukjizat Nabi: Bulan Terbelah dan Air Memancar dari Jemarinya




Diantara Tanda Kenabian Rasulallah sahallallahu 'alahi wa sallam

Terbelahnya Bulan
Allah subhana wa ta'ala berfirman:
{اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ}
Artinya: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” [QS. Al-Qomar: 1]

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata:
Rembulan terbelah pada zaman Rasulullah menjadi dua bagian, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«اشْهَدُوْا»
“Saksikanlah!" [HR. Muslim: 2800]

Anas radhiallahu 'anhu berkata:
“Bahwasanya penduduk Makkah meminta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar  memperlihatkan bukti kebenaran (sebagai seorang rasul), maka beliau pun memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan dua kali.” [HR. Muslim: 2802]

Memancarnya Air
Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu berkata:
عَطِشَ النَّاسُ يَوْمَ الحُدَيْبِيَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ يَدَيْهِ رِكْوَةٌ فَتَوَضَّأَ، فَجَهِشَ النَّاسُ نَحْوَهُ، فَقَالَ: «مَا لَكُمْ؟» قَالُوا: لَيْسَ عِنْدَنَا مَاءٌ نَتَوَضَّأُ وَلاَ نَشْرَبُ إِلَّا مَا بَيْنَ يَدَيْكَ، فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الرِّكْوَةِ، فَجَعَلَ المَاءُ يَثُورُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، كَأَمْثَالِ العُيُونِ، فَشَرِبْنَا وَتَوَضَّأْنَا قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ؟ قَالَ: لَوْ كُنَّا مِائَةَ أَلْفٍ لَكَفَانَا، كُنَّا خَمْسَ عَشْرَةَ مِائَةً.
“Orang-orang kehausan pada hari Hudaibiyah. Ketika itu, di hadapan Nabi shalallahu alaihi wa sallam ada rakwah (wadah kecil). Kemudian beliau berwudhu dan orang-orang pun berlarian ke arah beliau. Maka Nabi bersabda: “Ada apa dengan kalian?” Mereka pun menjawab: “Kami tidak memiliki air untuk berwudhu, tidak pula untuk minum, kecuali air yg ada padamu”. Kemudian beliau mencelupkan tangannya ke rakwah, dan air pun memancar dari sela-sela jarinya bagaikan mata air. Kemudian kami pun minum dan berwudhu dengannya dan saat itu kami berjumlah 500 orang.” [HR. Bukhari: 3576]

Jabir radhiallahu 'anhu berkata:
«كَانَ المَسْجِدُ مَسْقُوفًا عَلَى جُذُوعٍ مِنْ نَخْلٍ، فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ يَقُومُ إِلَى جِذْعٍ مِنْهَا، فَلَمَّا صُنِعَ لَهُ المِنْبَرُ وَكَانَ عَلَيْهِ، فَسَمِعْنَا لِذَلِكَ الجِذْعِ صَوْتًا كَصَوْتِ العِشَارِ، حَتَّى جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا فَسَكَنَتْ»
“Kala itu masjid bertiangkan batang pohon kurma, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berkhutbah berdiri di (samping) salah satu tiangnya. Tatkala telah dibutkan baginya mimbar dan beliau berdiri di atasnya, kami mendengar suara dari batang kurma tersebut seperti rengekan anak kecil. Nabi pun mendatanginya, meletakkan tangan padanya, dan batang kurma tersebut terdiam.” [HR. Bukhari: 3585]

Penjelasan:
Telah terjadi beberapa tanda (bukti-bukti) yang menunjukkan bahwa Rasulullah benar-benar seorang nabi dan utusan Allah yang menguatkan keimanan orang yang melihat dan mendengarnya. Diantara tanda-tanda tersebut adalah terbelahnya bulan, memancarnya air dari sela-sela jemari Rasul dan rengekan batang kurma tatkala beliau tinggalkan saat khutbah.

Faidah:
1. Benarnya kenabian Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
2. Keagungan Allah subhanahu wa ta'ala yang telah membekali Rasul dengan tanda-tanda (mukjizat) tersebut.

Diterjemahan oleh: Ummu Fathin dan Abu Fathin, Lc.
Dari Kitab: Ad-Durus Al-Yaumiyah min As-Sunan wa Al-Ahkam Asy-Syar’iyah
Karya: Rasyid bin Husain Al-Abdul Karim
Wonogiri, 12 April 2019

Selasa, 30 Mei 2017

ISLAM ADALAH WARISAN

Islam adalah agama warisan. Iya benar, warisan dari ALLAH yang tertanam pada hati setiap hamba sejak ia lahir.

ALLAH Tuhan semesta alam sendiri lah yang telah mengklaim hal tersebut.

ALLAH berfirman artinya,
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [QS. ar-Rum : 30]

Yang dimaksud dengan fitrah disini ialah tauhid (mengesakan ALLAH), dan kemampuan diri untuk bisa berpikir dan mengetahui akan ke Mahaesaan Tuhan sekalian alam.

Fitrah ini ada, dan telah tertanam dalam setiap jati diri manusia, namun fitrah ini juga bisa melenceng karena adanya doktrin dari luar.

Saya akan paparkan dalil-dalil baik secara akal maupun naql dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Namun untuk dalil yang terakhir ini sengaja saya akhirkan mengingat sebagian saudara-saudara kita belum tentu menerimanya, atau menilai saya hanya berbicara berdasarkan doktrin saja.

Tidak!. Bahkan saya berpikir, dan mengajak Anda sekalian untuk berpikir pula.

Coba jawablah dengan hati yang jujur, kira-kira alam semesta yang begitu komplek, dari penciptaan langit, bumi, hewan, manusia yang cerdas ini, ada begitu saja, atau ada yang menciptakan?.

Jika Anda jawab; muncul dengan sendirinya, maka konsekuensinya Anda juga dituntut untuk percaya pada ucapan orang yang menyatakan bahwa komputer itu muncul tiba-tiba, dengan sendirinya, tanpa ada yang membuat????.

Tentu hal tersebut merupakan pernyataan yang konyol. Karena tidak mungkin komputer secanggih apa pun muncul dengan sendirinya tanpa dibuat oleh manusia.

Dan alam semesta yang kita tempati ini lebih dari sekedar komputer yang dibuat manusia. Alam semesta ini lebih maha dahsyat, lebih hebat, lebih teratur, lebih canggih.

Siapakah kiranya yang menahan benda-benda angkasa, planet, bintang hingga mengapung tidak terjatuh, dan bergerak teratur?. Siapakah kiranya yang membuat langit yang begitu sempurna, menyusun bumi dengan materi-materi yang dibutuhkan kehidupan, memberi nyawa kepada setiap makhluk hidup?.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan jelas mengantarkan kita kepada hakikat penciptaan. Bahwa tidak mungkin semua itu muncul dengan sendirinya, melainkan ada Dzat yang Maha dahsyat yang menciptakannya.

Dan Dzat maha dahsyat ini tentulah memiliki kekuatan, kemampuan yang luar biasa di luar jangkauan akal manusia.

Dzat Maha dahsyat ini harus memiliki kekuasaan yang mutlak atas makhluk-makhluk-NYA, tidak ada yang bisa mengalahkan, semua makhluk-NYA haruslah tunduk kepada-NYA.

Dzat yang Maha dahsyat ini harus berdiri sendiri, tidak bergantung kepada siapa pun, bahkan seluruh makhluk yang harus bergantung kepada diri-NYA.

Dan Dzat pencipta yang maha dahsyat ini tentulah hanya satu, karena jika ada lebih dari satu, pastilah akan terjadi kehancuran, ketidakteraturan pada sistem kehidupan ini.

Satu pencipta ingin matahari terbit dari arah timur, dan pencipta lain ingin ia terbit dari arah barat. Satu pencipta ingin seseorang mati, dan pencipta lain ingin ia hidup.

Rusak sudah sistem kehidupan ini. Namun manakala kita tidak mendapati kerusakan tersebut, justru keteraturan yang kita saksikan, maka itu sudah cukup menunjukkan adanya satu pencipta yang maha kuat.

Keyakinan satu pencipta ini telah diyakini oleh setiap manusia berdasarkan fitrah mereka, bahkan orang yang berkeyakinan akan adanya banyak Tuhan pun meyakini bahwa tetap ada Tuhan yang satu yang paling hebat, yang senantiasa menang dari yang lain. Maka tuhan-tuhan lain yang bisa dikalahkan olehnya tidak lah cocok disebut sebagai Tuhan, karena mereka bisa dikalahkan, sedang syarat dari Tuhan adalah tidak akan terkalahkan, sehingga dengan ini jelaslah bahwa setiap manusia sejatinya mengakui adanya satu Tuhan Yang Maha kuat, Maha Perkasa dan Maha mengalahkan.

Sekarang kita akan klasifikasikan keyakinan yang ada di muka bumi ini yang selaras dengan apa yang kita yakini tadi.

Keyakinan yang ada di muka bumi tidak akan terlepas dari 3 kelompok;

1. Atheisme : Tidak mengakui keberadaan Tuhan.

2. Monotheisme : Hanya mengakui Tuhan Yang satu yang berhak disembah.

3. Polytheisme : Meyakini banyak Tuhan.

Dan keyakinan yang sesuai dengan apa yang kita paparkan di muka sebelum ini adalah monotheisme. Maka kelaziman dari keyakinan lain yang selain dari monotheime adalah keliru dan salah.

Keyakinan Atheisme gugur dengan fakta adanya alam semesta dan isinya yang begitu hebat yang mengindikasikan adanya Tuhan Sang Pencipta.

Keyakinan Politheisme gugur dengan fakta keteraturan yang ada dalam alam semesta, yang mengisyaratkan hanya ada satu Tuhan yang Maha Dahsyat dari yang lain.

Dengan ini maka hanya tersisa keyakinan yang benar untuk kita yakini, yakni keyakinan monotheisme; meyakini adanya satu Tuhan yang paling berhak untuk disembah.

Sekarang silahkan Anda absen sendiri agama, atau keyakinan apa saja yang menganut monotheisme di dunia ini yang Anda ketahui.

Agama atau keyakinan apa saja, dengan syarat agama ini meyakini adanya satu Tuhan yang berhak untuk disembah.

Saya akan absen agama saya yaitu Islam.

Sekarang untuk membuktikan bahwa agama yang telah diabsen tadi, dari agama-agama monotheisme itu benar, maka harus memiliki kriteria berikut;

Pertama : Tuhan yang disembah dalam agama tadi harus menyatakan klaimnya secara gamblang kepada umat manusia bahwa DIA adalah Tuhan satu-satunya yang berhak disembah. Dan bahwa dialah yang memiliki alam semesta dan menciptakannya.

Karena kalau tidak demikian gugurlah konsep ketuhanan, dari sisi ketidak jelasan. Sebab yang menciptakan alam ini tentu harus mengklaim bahwa dirinya adalah pencipta yang wajib disembah, sehingga kita semua tahu adanya Tuhan yang menciptakan kita dan alam semesta, adanya Tuhan yang ternyata harus kita sembah.

Jika klaim dari Tuhan ini sama sekali tidak ada di dunia, maka sungguh sia-sialah kehidupan ini, orang bebas berbuat sekehendak hatinya tanpa ada pertanggung jawaban.

Bisa Anda bayangkan bagaimana jadinya orang bebas membunuh, mencuri dan berbuat semaunya di dunia, tanpa khawatir bahwa ada Tuhan yang kelak akan menuntutnya dan membalas perbuatannya.

Dan Islam alhamdulillah punya puluhan ayat yang disana Tuhan kami ALLAH mengklaim bahwa DIA lah yang harus disembah oleh semua manusia.

"Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut. Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?." [QS. an-Nahl : 51-52]

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." [QS. Thaha : 14]

Lihat juga :
Ali Imran : 51, Al-An'am : 102, Yunus : 3, Hud : 123, Maryam : 36, 65, al-Anbiya : 25, 92, al-Ankabut : 56, az-Zumar : 2, 15, 66, az-Zukhruf : 64.

Dalam banyak ayat-ayat tadi ALLAH mengklaim yang memiliki alam semesta, yang menciptakannya dan DIA sajalah yang harus disembah.

Adakah agama lain yang memiliki konsep monotheisme yang Tuhannya mengklaim seperti ini?.

Kedua : Agama tadi harus mempunyai klaim bahwa agama tersebut adalah yang paling benar dan yang lain adalah salah.

Karena logikanya, Tuhan yang mengklaim berhak disembah tadi, pasti ingin disembah sesuai dengan cara yang Dia inginkan, agar tidak terjadi ambigu mengenai metode penyembahan.

Sebab masing-masing agama yang kita ketahui di dunia ini memiliki metode ibadahnya sendiri-sendiri yang seringkali saling bertolak belakang.

Ada keyakinan sebagian manusia yang dalam beribadah harus mengorbankan nyawa manusia. Ada sebagian agama yang ibadahnya adalah menyakiti diri sendiri. Mungkinkah, Tuhan Yang Maha Pengasih, menunjuki manusia jalan yang benar memerintahkan manusia dengan model ibadah semacam ini?.

Maka harus dibutuhkan adanya klaim bahwa satu agama yang dipilih Tuhan adalah yang paling benar dan lainnya salah. Dan agama ini haruslah mengakomodasi ajaran-ajaran yang merefleksikan ajaran dari sifat-sifat ketuhanan.

Agama Islam telah memiliki klaim tadi. Klaim bahwa ajaran Islam adalah ajaran Tuhan satu-satunya yang paling benar, dan mengakomodasi ajaran-ajaran Tuhan.

ALLAH berfirman,
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." [QS. Ali Imran : 19]

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." [QS. Ali Imran : 85]

Ketiga : Agama tersebut harus memiliki kitab panduan yang lengkap, komprehensif, menyangkut aturan tata cara hidup manusia di muka bumi ini. Dari semua aspek kehidupan. Dan itu harus relevan disetiap tempat dan waktu.

Alhamdulillah Islam lolos dengan predikat sangat sempurna untuk syarat yang ketiga ini, dengan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup manusia, yang sangat komplit, tanpa cacat sedikit pun, dan relevan disetiap waktu dan tempat.

Adakah agama lain yang memiliki kitab semisal Al-Qur'an?.

Keempat : Sang Pencipta tadi karena tidak menampakkan diri-NYA secara langsung kepada kita di dunia ini, dan itu tentu untuk suatu kemashlahatan, maka Sang Pencipta tadi harus memiliki hamba-hamba yang terpercaya di muka bumi ini yang akan mengabarkan berita tentang diri-NYA, lewat perantaraan wahyu.

Dan hamba-hamba pilihan tadi harus terkenal sebagai orang-orang baik, amanah, terpercaya, jujur, tidak berdusta, serta sangat giat mengajak manusia untuk menyembah sang pencipta tadi.

Karena bagaimana mungkin kita akan mengenal agama yang diridhai oleh Tuhan, tanpa ada orang yang mengajari kita dan memberitahu kepada kita.

Dan lagi-lagi Islam lulus dengan sempurna, karena Islam memiliki para Nabi dan Rasul yang memiliki akhlak, amanah yang tidak diragukan lagi, dan mereka sangat giat menyampaikan risalah Tuhan.

Dari sini konsep keyakinan dan agama baru dikatakan jelas, gamblang dan tidak diragukan kebenarannya. Dan semua itu dimiliki oleh Islam.

Kembali ke fitrah itu tadi, bahwa sejatinya jati diri setiap manusia sejak lahir adalah beragama Islam dan bertauhid kepada ALLAH.

Rasul kami Muhammad صلى الله عليه وسلم telah menyampaikannya sendiri,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan diatas fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nasrani ataupun Majusi." [HR. al-Bukhari]

Dalam hadits qudsi ALLAH سبحانه وتعالى berfirman,

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

"Sesungguhnya AKU menciptakan hamba-hamba-KU seluruhnya dalam keadaan hanif (lurus akidahnya). Namun setan-setan mendatangi mereka hingga melencengkan mereka dari agamanya, sehingga mereka mengharamkan apa yang telah AKU halalkan. Dan menyuruh mereka untuk menyekutukan-KU yang tidak diturunkan padanya ilmu." [HR. Muslim]

Sejak manusia pertama kali turun di muka bumi ini hingga 10 abad manusia beragama Islam yakni mentauhidkan ALLAH, menyembah ALLAH saja.

"Manusia dulu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." [QS. al-Baqarah : 213]

Dikatakan oleh sebagian sahabat Nabi bahwa sejak Nabi Adam sampai sebelum Nuh sekitar 10 abad manusia tetap berada dalam fitrah keislaman dan ketauhidan, hingga muncul golongan yang disesatkan oleh setan hingga mereka mulai menyekutukan ALLAH, oleh sebab itulah ALLAH mengutus Nabi Nuh.

Maka sangat jelas sekali seterang matahari, apa yang saya katakan di muka, kebenaran pernyataan bahwa Islam adalah agama dan keyakinan warisan kita.

Iya, karena sejatinya sejak lahir setiap kita beragama Islam, hanya setan dan lingkunganlah yang menjadikan diantara kita beragama selain Islam.

Dan andaikata seorang tetap dalam fitrahnya ini, serta tidak dicampuri oleh lingkungan ataupun disesatkan oleh setan, maka tentulah ia akan tumbuh tetap pada fitrahnya mengesakan ALLAH, meskipun ia belum mengetahui ataupun mendengar tentang agama Islam.

Namun orang tua, teman bergaul, lingkungannya lah yang melencengkan dia dari fitrahnya, dan menjadikannya dirinya beragama selain Islam.

Maka silahkan coba untuk direnungkan apa yang sudah saya ketengahkan, karena saya memilih Islam bukan semata-mata sekedar tumbuh di lingkungan Islam, namun karena saya belajar, saya berpikir dan alhamdulillah saya diberikan hidayah.

Perlu Anda ketahui bahwa hidayah itu diperoleh karena usaha, bukan hanya berpangku tangan, maka berpikirlah mudah-mudahan kita sekalian diberikan hidayah.

Dan sangat naif sekali mereka yang mengatakan bahwa Islam itu fanatik, Islam itu hanya doktrin-doktrin, padahal ia sendiri juga fanatik dengan keyakinannya, ia sendiri juga telah termakan doktrin yang telah melencengkan dari fitrah aslinya.

Silahkan berpikir dan renungkan, dapat hidayah kebenaran atau tidak setelah ini itu tergantung usaha Anda...

__________
Ditulis oleh Sapto B. Arisandi

Senin, 10 April 2017

⭐️🔸Lihat Lahirnya🔸⭐️

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- dalam syarh hadits:

(من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا، وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله، فلا تخفروا الله في ذمته)

"Dalam hadits tersebut (dijelaskan) bahwa seseorang dihukumi sesuai lahirnya, barang siapa yang menampakkan syiar Islam maka dihukumi sebagai seorang muslim, sampai dia terang-terangan menyelisihi Islam. "

[Fathu al-Baari: 1/496]

__________
Nopi Ibnu Rasman

Sampai Tegaknya Hujjah

Imam Syaukani -rohimahulloh- berkata dalam tafsir ayat:
{وما كنا معذّبين حتى نبعث رسولا}

"Sesungguhnya Alloh Ta'ala tidak akan mengadzab sebuah kaum hingga datang peringatan dengan mengutus para Nabi, dan menurunkan Kitab-kitab-Nya. Dia tidak membiarkan mereka begitu saja, dan tidak pula menyiksanya sampai tegak hujjah. "
[Fathu al-Qodir: 1/814]

__________
Nopi Ibnu Rasman

Kamis, 06 April 2017

🍁TAWASSUL DARI GENERASI KE GENERASI🍁


Tawassul artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, mengikuti petunjuk rasul-Nya, dan mengamalkan seluruh amalan yang dicintai dan diridhoi-Nya. [https://muslim.or.id]

Berkata Ibnu Katsir -rohimahulloh- dalam tafsir ayat (وابتغوا إليه الوسيلة) [QS. Al-Maidah: 35]:

Qotadah berkata: "Yaitu: dekatkanlah dirimu kepada-Nya dengan ketaatan kepada-Nya dan beramal dengan apa yang diridhoi-Nya".

Wasilah adalah sesuatu yang mengantarkan kepada maksud/tujuan. Ia juga berarti: manzilah (tempat/kedudukan) yang tertinggi di surga, yaitu kedudukan dan tempat tinggal baginda Rosululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- di surga. Dan ia merupakan tempat yang terdekat dengan 'Arsy. [Mishbahul Munir Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hlm. 391-392]

Secara garis besar ada tiga bentuk tawassul yang disyariatkan, di antaranya:
1. Bertawassul dengan Asmaul Husna
2. Bertawassul dengan amal sholeh
3. Bertawassul dengan doa orang sholeh yang masih hidup

Pada zaman dahulu, generasi orang-orang musyrik mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara bertawassul dengan berhala-berhala yang merupakan patung orang yang dianggap sholeh yang telah wafat.

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.” (QS. Az Zumar:3).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah” (QS. Yunus:18).

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa mereka tidak semata-mata meminta kepada sesembahan/berhala mereka, tapi berhala mereka hanyalah sebagai perantara dan pemberi syafaat.

Sayang seribu sayang, pada saat ini masih ada generasi kaum muslimin yang masih meniru gaya tawassul kaum musyrikin. Mereka menganggap wali yang sudah meninggal dapat menjadi perantara dan pemberi syafaat bagi mereka.

⛅Sudah saatnya kita berbenah untuk memurnikan agama kita dari noda-noda syirik seperti ini. Ingatlah sabda Nabi kita tercinta:

"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golonganya."

Semoga Alloh Ta'ala membuka hati dan memberi hidayah bagi saudara-saudara kita yang masih terjerumus dalam perbuatan syirik. Amiin.

_______________
Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.

Selasa, 23 Juli 2013

Perjalanan Ruh Setelah Mati

            Telah tersebar di masyarakat kita sebuah keyakinan yang melekat di hati mereka, bahwa ruh orang yang telah meninggal dunia karena mati penasaran bisa gentayangan untuk menakut-nakuti manusia maupun sekedar menengok keluarga yang ditinggalkannya, pada malam Jum’at.
            Benarkah itu adanya?


            Masalah ruh merupakan perkara ghaib, tidak mungkin kita mengetahui dengan pasti, hanya berdasarkan perkataan nenek moyang, melainkan harus dengan dalil yang datangnya dari Yang Maha Mengetahui.
            Alloh Subahanahu wa Ta'ala telah berfirman:
}وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا{
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". [QS. Al-Israa`: 85]
            Oleh Karena itu, untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali kepada petunjuk Al-Qur`an dan As-Sunnah, karena akal kita terbatas tidak mampu mencerna hal semacam ini.
            Itulah hikmah kenapa Alloh merahasiakan masalah ruh; untuk menyadarkan kita akan kelemahan akal kita dari pengetahuan tentang makhluk yang berada dalam diri kita sendiri (ruh kita), apalagi tentang penciptanya, tentu lebih tidak mengetahuinya. Seandainya kita sadar akan hal itu, niscaya kita tidak berlaku sombong dan selalu menimbang baik-buruk suatu perkara dengan syari’at, tidak dengan hawa nafsunya. [Lihat: Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an jilid: 10, hlm. 283]

1. Perjalanan Ruh Orang Mukmin
            Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa: ketika seorang mukmin meninggal, maka turunlah malaikat dengan wajah putih bersinar dengan membawa kain kafan & kamfer dari surga.
            Kemudian, datanglah malaikat maut seraya berkata: “Wahai ruh yang baik keluarlah kamu menuju ampunan Alloh dan keridloan-Nya.” Maka ruh itu pun keluar dari jasadnya sebagaimana menetesnya air yang keluar dari mulut cerek, lalu diletakkan di atas kain kafan dari surga yang menyebarkan bau harum minyak kasturi.
            Para malaikta membawanya naik ke langit dan tidaklah ruh itu melewati seorang malaikat, melainkan malaikat tersebut akan bertanya: “Ruh siapakah yang menyebarkan bau harum ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab: “(Ruh) fulan bin fulan” –mereka menyebutkan nama panggilannya yang baik.
            Sesampai langit ke tujuh mereka berhenti, kemudian Alloh 'Azza wa Jalla berfirman: “Catatlah buku catatan amal hamba-Ku ini di ‘illiyyin’” (yaitu: buku catatan amal shalih orang-orang mukmin).
            Selanjutnya Alloh berfirman: “Kembalikanlah ruh ini ke bumi, karena Aku telah berjanji bahwa darinya Aku menciptakan mereka, padanya Aku mengembalikan mereka dan darinya Aku mengeluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”
            Kemudian ruh itu dikembalikan ke bumi dan dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya dan bertanya padanya: “Siapa Robbmu?” Ia menjawab: “Tuhanku Alloh” Keduanya bertanya: “Apa agamamu?” Ia menjawab: “Agamaku Islam” Keduanya bertanya: “Siapakah laki-laki yang telah diutus di tengah-tengah kamu?” Ia menjawab: “Ia adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam” Keduanya bertanya: “Apa yang telah kamu lakukan?” Ia menjawab: “Aku membaca Kitab Alloh (Al-Qur`an), kemudian aku mengimaninya serta membenarkannya.”
            Lalu dihamparkan baginya permadani di surga, dipakaikan baju dari surga dan dibukakan baginya pintu surga. Maka terciumlah bau harum surga serta diluaskan kuburnya sejauh mata memandang.
            Setelah itu datanglah amal shalihnya dalam bentuk laki-laki rupawan menemaninya dan diperlihatkan baginya kenikmatan-kenikmatan surga, sehingga ia sangat merindukan hari kiamat dan memohon kepada Alloh agar menyegerakan datangnya hari kiamat.

2. Perjalanan Ruh Orang Durhaka/ Kafir
            Ketika orang yang durhaka/ kafir meninggal, turunlah kepadanya para malaikat yang kasar lagi keras dengan wajah hitam pekat dan membawa kain kafan yang kasar dari neraka. Kemudian datanglah malaikat maut berkata padanya: “Wahai ruh yang jelek keluarlah menuju kemurkaan serta kebencian Alloh!”
            Malaikat maut itu memaksa ruh tersebut untuk berpisah dengan jasadnya dan mencabutnya bagaikan mencabut besi tusukan daging yang banyak cabangnya dari bulu domba yang basah, dimana urat-urat sarafnya ikut terputus bersamaan dengan tercabutnya ruh.
            Kemudian ruh tersebut diletakkan di atas kafan dari neraka, lalu dibawa naik (ke langit) dan tersebarlah bau busuk. Setiap kali melewati malaikat mereka bertanya: “Ruh siapakah yang jelek ini?” Setibanya di pintu langit dunia, malaikat penjaganya tidak mau membukakan pintu baginya.
            Setelah itu, ruh tersebut dilemparkan ke dasar bumi hingga menimpa jasadnya. Maka datanglah dua malaikat seraya membentak dan mendudukannya seraya bertanya: “Siapa Rabbmu?” Ruh yang durhaka tadi hanya bisa menjawab: “Hah…hah…aku tidak tahu.” Kedua malaikat bertanya lagi: “Apa agamu?” Ia menjawab: “Hah…hah…aku tidak tahu.” Keduanya bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang diutus di tengah-tengah kamu?” Ia pun tidak ingat sama sekali namanya dan tidak mengetahuinya. Lalu dihamparkan baginya permadani dari neraka dan dibukakan baginya pintu neraka, sehingga ia merasakan panas hembusan api neraka dan angin panasnya. Kemudian kuburnya menghimpitnya, sehingga tulang rusuknya hancur berantakan.
            Setelah itu datanglah amal buruknya dalam rupa manusia yang berwajah buruk, pakaiannya compang-camping dan berbau busuk seraya berkata padanya: “Aku ini adalah amalmu yang jelek. Demi Alloh, aku tidak mengetahuimu selain kamu adalah orang yang selalu melalaikan ketaatan kepada Alloh serta senantiasa bermaksiat kepada-Nya, sehingga Alloh membalasmu dengan kejelekan.”
            Kemudian orang (buruk rupa) tadi berubah menjadi buta, tuli dan bisu, tangannya menggenggam palu godam yang jika gunung dipukul dengannya akan hancur.
            Lalu dipukullah orang durhaka tadi dengan palu godam tersebut sehingga hancur menjadi tanah, iapun menjerit keras sekali yang didengar oleh setiap makhluk kecuali manusia dan jin. Alloh pun mengulang-ulang kejadian tersebut; setelah hancur dikembalikan lagi, setelah hancur dikembalikan lagi. Sehingga orang yang durhaka tadi berkat: “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau melaksanakan kiamat.” [Diringkas dari Riwayat Imam Ahmad: IV/287, hadits shahih]
            Demikianlah perjalanan ruh orang mukmin dan orang durhaka antara bumi dan langit, hingga mereka ditanya oleh kedua malaikat (Munkar dan Nakir).
            Para ulama sepakat, bahwa setelah jenazah dimasukkan ke liang kubur, maka ia akan akan menerima kenikmatan kubur atau adzabnya, dimana hal itu akan dirasakan ruh dan jasadnya.
            Ruh akan tetap merasakan nikmat atau adzab kubur setelah ia berpisah dari jasadnya, serta sekali-kali ia berhubungan dengan jasadnya, sehingga ia bersama jasad merasakan nikmat/ adzab kubur.
            Setelah kiamat terjadi, ruh dikembalikan ke dalam jasad dan bangkit dari kubur mereka untuk menghadap Rabb semesta alam.

Kebenaran Siksa Kubur dan Neraka
            Siksa kubur dan api neraka merupakan perkara yang nyata dan benar adanya. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah sabda Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berbunyi:
«يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»
Artinya: “Keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar.” Nabi berkata: “Padahal itu dosa besar, dimana salah satu dari keduanya tidak menjaga diri dari air kencing, dan yang lain suka mengadu domba.” [HR. Bukhari: 216]
            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memperingatkan kita agar senantiasa berlindung dari siksa kubur terutama saat tasyahhud akhir sebelum salam:
«إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»
Artinya: “Jika salah seorang di antar kamu telah selesai tasyahhud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Alloh dari empat hal: dari siksa api neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan setelah mati serta dari fitnah Dajjal.” [HR. Muslim: 588]
            Oleh karena itu, kita harus mengetahui sebab-sebab diadzabnya seseorang dalam kubur agar kita segera meninggalkannya, dan sebab-sebab diselamatkan darinya agar kita bisa melakukannya.

1.     Sebab-sebab mendapatkan adzab kubur 
Yaitu: karena melalaikan perintah-Nya dan bermaksiat pada-Nya, seperti: mengadu domba, menggunjing, sombong, memakan harta riba, meninggalkan shalat, zakat maupun puasa, curang ketika menakar, serta kemaksiatan lainnya yang dilakukan oleh hati, mata, telinga, mulut, lidah, perut, kemaluan, tangan, kaki dan badan secara keseluruhan.

2.     Sebab-sebab dilindungi dari adzab kubur
Secara garis besar yaitu dengan menghindari sebab-sebab yang mendatangkan adzab kubur dan memperbanyak melakukan ketaatan kepada Alloh 'Azza wa Jalla, mengikuti sunnah/ petunjuk Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta bartaubat dari segala dosa dan maksiat.
            Akhirnya, semoga Alloh Subahanahu wa Ta'ala menjadikan kuburan kita semua dan kuburan segenap kaum muslimin sebagai sebuah taman dari pertmanan surga dan melindungi kita dari segala fitnah yang mengancam kita. Amiin…

_______________
Penulis: Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.
(Founder Nir EduCon Solutions - Konsultasi Waris @nireducon)

Referensi:  - Al-Qur`an Al-Karim
                        - Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an
                        - Shahih Bukhari
                        - Shahih Muslim
                        - Musnad Imam Ahmad
- Perjalanan Ruh Setelah Mati, karya: Khalid bin Abdurrahman asy-Syayi’.