Free download kitab panduan belajar ilmu sharf dan nahwu tingkat dasar (pemula) الشرف الحاوي في مبدأ علم الصرف والنحو.
Free download kitab panduan belajar ilmu sharf dan nahwu tingkat dasar (pemula) الشرف الحاوي في مبدأ علم الصرف والنحو.
Menjaga keberkahan dalam pembagian harta waris sesuai syariat Islam adalah hal yang sangat penting. NiR EduCon Solutions hadir untuk membantu Anda menghitung harta waris dengan panduan yang sesuai dengan hukum Islam, secara online melalui pesan WhatsApp. Dengan layanan konsultasi GRATIS ini, Anda dapat memastikan bahwa pembagian harta waris dilakukan secara adil dan benar.
Apakah Anda bingung tentang cara pembagian harta waris sesuai syariah? Jangan khawatir! Kami di NiR EduCon Solutions menyediakan layanan konsultasi perhitungan harta waris secara online Gratis yang dapat membantu Anda membagi harta waris dengan tepat dan sesuai dengan ketentuan Islam. Dengan bimbingan dari ahli kami, Anda akan mendapatkan panduan yang sesuai dengan Kitab al-Mawarits, karya Muhammad Aly ash-Shabuni, yang diakui sebagai rujukan dalam pembagian harta waris menurut hukum Islam.
Konsultasi perhitungan harta waris ini hanya mencakup pembagian jumlah bagian atau saham masing-masing ahli waris tanpa menghitung nominalnya. Kami berusaha memberikan hasil yang sejalan dengan syariat Islam, dan kami berlepas diri dari segala bentuk sengketa yang mungkin terjadi di antara ahli waris jika ada yang tidak menerima perhitungan tersebut.
Segera hubungi kami melalui WhatsApp di +62 852-9204-3000 untuk memulai konsultasi dan pastikan harta waris Anda dibagi dengan adil sesuai ketentuan agama.
Jangan lewatkan kesempatan ini! Layanan konsultasi GRATIS dari NiR EduCon Solutions dapat membantu Anda menjaga keharmonisan keluarga dalam proses pembagian waris.
#KonsultasiWaris #KonsultasiWarisGratis #SyariahIslam #NIREduConSolutions #LayananGratis #HukumWarisan #KonsultasiOnline #KonsultasiGratis #KonsultasiSyariah #Belajar #HartaWaris #BelajarOnline #BelajarWarisOnline #FikihWaris #KonsultasiWarisOnline #KeluargaSakinah #WarisIslam #Faraidh #HukumWarisIslam #PembagianWaris
Kita hidup di zaman yang penuh fitnah. Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan jauh-jauh hari bahwa akan datang masa yang penuh dengan ujian, di mana yang benar dianggap salah, dan yang salah dianggap benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
»سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ«، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ، قَالَ: »الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ«.
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah [4036], disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
Hadits ini menggambarkan kondisi akhir zaman, di mana kebenaran dibolak-balik, dan banyak orang yang tidak layak justru menjadi panutan.
Bagaimana Seorang Mukmin Bersikap?
1. Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah
Allah Ta’ala berfirman:
{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ}
“Jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul...” [QS. An-Nisā’: 59]
Inilah kompas hidup seorang mukmin, sebagaimana Rasulullah berpesan:
»تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ«
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).
2. Menjaga lisan dan hati
Rasulullah ﷺ bersabda:
»مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ«
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Di zaman fitnah, banyak orang terjebak dalam opini, berita palsu, dan ghibah. Maka keselamatan seorang mukmin ada pada menjaga lisannya agar tidak menyebarkan kebatilan.
3. Memperbanyak doa dan istighfar
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
»يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ«
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Selain itu, beliau juga banyak beristighfar. Dalam sehari, Rasulullah ﷺ beristighfar lebih dari 70 kali. (HR. Bukhari). Maka, doa dan istighfar menjadi benteng kita dari fitnah zaman.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab AL-WABILUSH SHAYYIB saat membahas keutamaan dan manfaat dzikir (poin ke-46):
"إن في القلب قسوة لا يذيبها إلا ذكر الله تعالى فينبغي للعبد أن يداوي قسوة قلبه بذكر الله تعالى"
“Sesungguhnya di dalam hati itu ada sifat keras yang tidak bisa hilang kecuali dengan berdzikir kepada Allah. Maka sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk mencairkan kekerasan hatinya tersebut dengan memperbanyak bedzikir kepada Allah.”
Di zaman fitnah, siapa yang jauh dari dzikir dan doa, maka hatinya akan rapuh dan mudah goyah.
Jama'ah rahimakumullāh,
Keselamatan seorang mukmin di akhir zaman bukan pada banyak bicara, bukan pada mengikuti arus, tetapi pada keteguhan iman dan istiqamah dalam ketaatan.
Mari kita perbanyak doa, istighfar, dan memohon kepada Allah agar diteguhkan hati kita di atas agama-Nya.
Semoga Allah meneguhkan iman kita, menjaga lisan kita, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah, aamiin…
Amalan Keliru di Bulan Sya’ban
Bulan Sya’ban adalah bulan yang penuh kebaikan. Di bulan tersebut banyak yang lalai untuk beramal sholeh karena yang sangat dinantikan adalah bulan Ramadhan. Mengenai bulan Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan keras agar umatnya tidak beramal tanpa tuntunan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin sekali umatnya mengikuti ajaran beliau dalam beramal sholeh. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan tuntunan dalam suatu ajaran, maka tidak perlu seorang pun mengada-ada dalam membuat suatu amalan. Islam sungguh mudah, cuma sekedar ikuti apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan, itu sudah mencukupi.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Bid’ah sendiri didefinisikan oleh Asy Syatibi rahimahullah dalam kitab Al I’tishom,
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”
Amalan yang Ada Tuntunan di Bulan Sya’ban
Amalan yang disunnahkan di bulan Sya’ban adalah banyak-banyak berpuasa. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Di bulan Sya’ban juga amat dekat dengan bulan Ramadhan, sehingga bagi yang masih memiliki utang puasa, maka ia punya kewajiban untuk segera melunasinya. Jangan sampai ditunda kelewat bulan Ramadhan berikutnya.
Amalan yang Tidak Ada Tuntunan di Bulan Sya’ban
Adapun amalan yang tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak yang tumbuh subur di bulan Sya’ban, atau mendekati atau dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Boleh jadi ajaran tersebut warisan leluhur yang dijadikan ritual. Boleh jadi ajaran tersebut didasarkan pada hadits dho’if (lemah) atau maudhu’ (palsu). Apa saja amalan tersebut? Berikut beberapa di antaranya:
1. Kirim do’a untuk kerabat yang telah meninggal dunia dengan baca yasinan atau tahlilan. Yang dikenal dengan Ruwahan karena Ruwah (sebutan bulan Sya’ban bagi orang Jawa) berasal dari kata arwah sehingga bulan Sya’ban identik dengan kematian. Makanya sering di beberapa daerah masih laris tradisi yasinan atau tahlilan di bulan Sya’ban. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya.
2. Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat dan do’a.
Tentang malam Nishfu Sya’ban sendiri ada beberapa kritikan di dalamnya, di antaranya:
a. Tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif, 248). Juga yang mengatakan seperti itu adalah Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi.
Contoh hadits dho’if yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, yaitu hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if/ lemah].
b. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ
“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144). Seandainya ada pengkhususan suatu malam tertentu untuk ibadah, tentu malam Jum’at lebih utama dikhususkan daripada malam lainnya. Karena malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam lainnya. Dan hari Jum’at adalah hari yang lebih baik dari hari lainnya karena dalam hadits dikatakan, “Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at.” (HR. Muslim). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar jangan mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya dengan shalat tertentu, hal ini menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak dikhususkan dengan suatu ibadah di dalamnya kecuali jika ada dalil yang mendukungnya. (At Tahdzir minal Bida’, 28).
c. Malam nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam lainnya. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115)
d. Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.
‘Abdullah bin Al Mubarok rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).
Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).
3. Menjelang Ramadhan diyakini sebagai waktu utama untuk ziarah kubur, yaitu mengunjungi kubur orang tua atau kerabat (dikenal dengan “nyadran”). Yang tepat, ziarah kubur itu tidak dikhususkan pada bulan Sya’ban saja. Kita diperintahkan melakukan ziarah kubur setiap saat agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976). Jadi yang masalah adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk ‘nyadran’ atau ‘nyekar’. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.
4. Menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar, padusan, atau keramasan. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Puasa tetap sah jika tidak lakukan keramasan, atau padusan ke tempat pemandian atau pantai (seperti ke Parangtritis). Mandi besar itu ada jika memang ada sebab yang menuntut untuk mandi seperti karena junub maka mesti mandi wajib (mandi junub). Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”), ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan (baca: ikhtilath) dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!
Cukup dengan Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat amalan yang tidak ada tuntunannya. Karena (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)
Orang yang beramal sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah yang akan merasakan nikmat telaga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak. Sedangkan orang yang melakukan ajaran tanpa tuntunan, itulah yang akan terhalang dari meminum dari telaga yang penuh kenikmatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui ajaran yang tanpa tuntunan yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049). Sehingga kita patut hati-hati dengan amalan yang tanpa dasar. Beramallah dengan ilmu dan sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Ibnu Taimiyah)
Wallahu waliyyut taufiq.
Prepared @ Panggang-Gunung Kidul, Khutbah Jumat MPR 6th July 2011 (08/07/2011)
Sumber https://rumaysho.com/1851-amalan-keliru-di-bulan-syaban.html
Kaum muslimin, rahimakumullah…
Siapa yang tidak bahagia dengan kelahiran Nabinya? Setiap muslim niscaya bergembira dengan kelahiran (maulid) Nabi.
Maka kita jumpai berbagai macam cara kaum muslimin di belahan dunia ini, untuk mengekspresikan kebahagiaan dalam menyambut hari Maulid Nabi. Ada sebagian mereka yang sekedar berkumpul untuk pengajian atau membacakan kitab sirah perjalanan hidup Nabi untuk diambil pelajaran, ada juga sebagian mereka menyambutnya dengan mengadakan acara-acara peringantan yang meriah, bahkan mengadakan konser atau lain sebagainya.
Terlepas dari perdebatan para ulama mengenai hukum perayaan Maulid, ada pertanyaan penting yang hendaknya kita renungi…
Sebenarnya bagaimana seharusnya kita mengekspresikan kegembiraan kita dengan kelahiran baginda Nabi?
Apakah iya, kita harus mengadakan acara peringatan tertentu untuk merayakannya? Dan apakah yang tidak merayakannya berarti tidak cinta kepada Nabi?
Ikhwah fillah, rahimakumullah…
Ingat! Kita memiliki dua kalimat syahadat. Salah satu diantaranya adalah Syahadat Risalah. Yakni: persaksian bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, yang bertugas untuk menyampaikan segala hal kepada umatnya, tentang kabar baik dan buruk, tentang syariat Islam seutuhnya, tanpa menyembunyikan suatu hal apa pun dari umatnya.
Maka, diantara konsekuensi dari Syahadat Risalah adalah kita membenarkan segala hal disampaikan oleh Nabi kita tercinta, dan berusaha mengikuti petunjuk beliau dalam segala hal terkait agama.
Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:
{ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ }
Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." [QS. Ali Imran: 31-32]
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
« مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ »
“Apa yang aku larang, maka juhilah! Dan apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah sesuai kemampuanmu!” [HR. Muslim: 1337]
Ma’syaral mukminin, rahimakumullah…
Pahamilah! Mereka yang tidak merayakan hari kelahiran Nabi, bukanlah karena mereka tidak mencintai Nabi.
Tapi semata-mata karena berusaha mengamalkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya; hal tersebut merupakan bentuk ekspresi mereka dalam mengagungkan Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Karena mereka yakin, bahwa Nabi tidak mungkin menyembunyikan kebenaran dan kebaikan. Kalau ada suatu kebenaran/kebaikan pasti sudah beliau sampaikan kepada umatnya. Dan sungguh teramat keji, orang yang menuduh Nabi telah menyembunyikan suatu kebenaran. Padahal Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ}
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan, berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknat.” [QS. Al-Baqarah: 159]
🌹 KAJIAN FAIDAH 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH 🌹
✒Ustadz Irsun Badrun, hafidzahullahu ta'ala
⏰Ba'da Maghrib, 31 Juli 2019.
🌏 Markaz Aitam Ar Rasyid, Dsn. Mantren, Ds Gunungan, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri,
______________________
🌙10 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari hari yg diutamakan atas hari hari lainnya di dalam satu tahun.
🌙Beramal shalih pada hari hari ini lebih utama dari pada jihad fii sabilillah.
🌙Amalan wajib dan sunnah pada bulan ini lebih utama dari waktu waktu yg lain.
🌙Keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah meliputi siang dan malamnya.
🌙Terdapat ibadah khusus pada waktu waktu ini : Haji & Qurban.
🌙Ibadah ibadah tersebut mengajarkan seseorang untuk menjadi orang dermawan dan berani berkorban. Karena agama Islam dibangun diatas pengorbanan.
🌙Allah telah bersumpah dengan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dalal QS. Al Fajr : 2.
🌙Bulan Dzulhijjah merupakan penutup bulan Hijriyyah.
🌙Di dalamnya ada hari yg mulia yaitu hari Arafah.
🌙Para salaf sangat bersungguh sungguh beribadah pada hari hari ini.
🌙Anjuran memperbanyak dzikir. Diantaranya takbir muthlaq.
______________________
🖋Ditulis oleh :
Ibnu Waris As Sundawy