Halaman

Jumat, 12 Juli 2013

Pilar Islam



ENAM PILAR AGAMA ISLAM
Oleh: Amirudin bin Salimin Bashori


Ma`asyirol Muslimin Rohimakumulloh,
Segala puji hanya milik Alloh Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai hari kiamat.

Kaum muslimin yang kami hormati…
Marilah kita maningkatkan takwa kita kepada Alloh dengan menampakan syi`ar-syi`ar Islam yang telah tetap dalam Al Qur`an dan Sunnah, karena hal ini adalah ciri ketakwaan yang ada didalam hati jika dilandasi keikhlasan. Diantaranya dengan menyembelih qurban, ibadah haji, dan sholat `id dibulan Dzulhijjah ini. Alloh berfirman:

"Demikianlah (perintah Alloh). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati" (Al Hajj:32)

Islam adalah agama yang sempurna sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Maidah ayat 3:

"Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu dan Aku telah ridho Islam sebagai agama bagimu"
Alloh telah menjamin keselamatan bagi pemeluknya apabila berpegang teguh dengannya sampai akhir hayat. Alloh berfirman:

"Barangsiapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan diakhirat termasuk orang yang merugi" (Ali Imron:85)

"Barangsiapa yang murtad diantaramu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya" (Al Baqoroh:217)
Dari ayat diatas jelaslah bahwa Islam menjamin keselamatan pemeluknya jika berpegang teguh dengannya. Selanjutnya, diantara hal yang menjaga keselamatan dan keutuhan Islam seseorang terdapat dalam 6 pilar berikut:
  1. Pemurnian Tauhid
  2. Mengikuti Rosululloh
  3. Istiqomah
  4. Ilmu dan Pemahaman
  5. Amar Ma`ruf Nahi Mungkar
  6. Tashfiyah dan Tarbiyah

  1. PEMURNIAN TAUHID
Islam adalah agama tauhid yaitu mengesakan Alloh dalam rububiyah, uluhiyah, asma dan shifat-Nya. Semua para rosul datang membawa misi ini.

"Dan Kami telah mengutus pada setiap umat seorang utusan (agar menyerukan): "Sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah thoghut itu" (An Nahl:36)
Dan tauhid ini adalah penjagaan bagi seseorang untuk memperoleh kemuliaan dan keamanan di dunia dan akhirat.

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang meraih keamanan dan mendapatkan petunjuk" (Al An`am:82)

 Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:
"Aku diperintah supaya memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh…."alhadits. (Mutafaq `alaih)
Tauhid Rububiyah adalah meyakini bahwa Alloh adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki, Yang Menghidupkan dan Mematikan, Yang mengatur segala urusan. Barangsiapa yang meyakini ini semua, berarti dia telah mengesakan Alloh dalam Rububiyah-Nya dan orang yang mengingkarinya adalah orang kafir/atheis.
Namun, Tauhid Rububiyah saja belum cukup apabila tidak dibarengi dengan Tauhid Uluhiyah, yaitu mengesakan Alloh dalam ibadah dan meniadakan ibadah kepada selain-Nya. Karena, orang-orang kafir musyrikin mereka mengakui Tauhid Rububiyah ini tapi tidak lantas menjadikan mereka muslim.

"Jika kamu menanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab Alloh…"(Luqman:25)
 Sedangkan tauhid Asma dan Sifat adalah menetapkan segala nama dan sifat yang telah Alloh dan Rosul-Nya tetapkan dalam Al Quran dan Sunnah tanpa mentahrif (merubah makna), tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk), tanpa takyif (mempertanyakan hakikatnya), dan tanpa ta`thil (menolak maknanya).
Maka, barang siapa mentauhidkan Alloh dengan 3 macam tauhid ini niscaya selamat.

2. MENGIKUTI ROSULULLOH SHOLLALLOHU `ALAIHI WASALLAM
Mengikuti Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam adalah tuntutan dari syahadat Muhammad Rosululloh. Alloh adalah yang menciptakan manusia dan jin untuk beribadah kepada-Nya. Maka mereka tidak akan bisa mewujudkan peribadahan tersebut sesuai dengan apa yang Alloh inginkan kecuali dengan perantara Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam. Dari sini, tidak boleh bagi seeorang untuk beribadah kepada Alloh dengan cara atau pemikirannya sendiri, akan tetapi harus dengan bimbingan risalah, sementara Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam  adalah pembawa risalah dari-Nya. Sehingga, para ulama memberi syarat diterimanya ibadah dengan dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam. Alloh berfirman:

 "Barang siapa yang berharap berjumpa dengan Robbnya maka hendaknya dia beramal sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dengan sesuatu apapun (didalam ibadah)" (Al Kahfi:110)
Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami yang tidak ada padanya niscaya tertolak" (Mutafaq`alaih)
Dalam riwayat Muslim: "Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada perintahku niscaya tertolak".

3. ISTIQOMAH
 Istiqomah adalah seseorang terus menerus berusaha untuk selalu diatas ketaatan kepada Alloh dengan senantiasa merasa diawasi oleh Alloh. Dengan seperti ini, seseorangn akan tergolong orang yang berbuat kebajikan (muhsin), sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shollallohu `alaihi wa sallam :  

"Engkau menyembah Alloh seakan-akan engaku melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya niscaya Dia melihat engkau"(HR. Muslim)
Istiqomah juga tersirat dalam firman Alloh:

"Jangan sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam" (Ali Imron:102)
Oleh karena itu, Alloh telah menjamin bagi orang yang istiqomah dengan balasan surga, karena istiqomah merupakan amalan yang berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi taufiq oleh Alloh. Alloh berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Robb kami adalah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "janganlah kamu merasa takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu".(Fushilat:30).

4. ILMU DAN PEMAHAMAN
Seseorang tidak akan bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah melainkan dengan ilmu. Islam adalah agama yang dilandasi dengan ilmu dan menjunjung tinggi pemiliknya. Adapun yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu tentang Alloh dan syariat-Nya, yaitu Al Quran dan Sunnah. Alloh berfirman:

"Maka ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh" (Muhammad:19)
Berdasarkan ayat ini Imam Bukhori dalam shohihnya membuat bab: "Bab Berilmu Sebelum Berucap dan Beramal". Alloh telah memberi kabar gembira bagi orang yang memiliki ilmu dengan kemuliaan dan kemudahan untuk masuk surga bagi orang yang mencarinya. Alloh berfirman:

"Niscaya Alloh mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat" (Al Mujadilah:11)
Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu Alloh mudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim)
Dengan ilmu seseorang akan lebih mengenal Alloh, hak-hak-Nya,dan syariat-Nya sehingga dia akan selalu istiqomah.

5. AMAR MA`RUF NAHI MUNKAR
Pilar ini adalah pilar yang sangat penting untuk menjaga keislamam seseorang dan keutuhan umat manusia. Amar ma`ruf nahi munkar adalah pilar yang tidak bisa lepas dari Islam. Dengan tegaknya amar ma`ruf nahi munkar manusia akan beruntung.
Alloh berfirman (yang artianya): "Demi masa (1) sesungguhnya manusia pasti dalam keadaan rugi (2) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran (3)". (Al Ashr:1-3)
Dan dengan runtuhnya prinsip ini manusia akan menjadi rusak, turunnya siksa dan malapetaka, dan alam akan menjadi rusak. Alloh berfirman:

"Takutlah kamu terhadap fitnah (malapetaka) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat zalim saja. Ketahuilah sesungguhnya Alloh amat keras siksa-Nya". (Al Anfal: 25)
Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:
  
"Sesungguhnya manusia apabila mereka melihat kemungkaran kemudian tidak merubahnya dikahwatirkan Alloh akan meratakan siksaan diantara mereka" (HR. Muslim)
Alloh berfirman:

"Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isroil melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Yang demikian itu, karena apa yang mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling melarang atas kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh amat jeleklah apa yang mereka lakukan" (Al Maidah:78-79)
Sedangkan ciri khas umat Islam adalah amar ma`ruf nahi munkar. Alloh berfirman:

"Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma`ruf dan melarang dari yang munkar" (Ali Imron:110)

 "Hendaknya ada diantaramu sekelompok manusia yang memerintahkan kepada yang ma`ruf dan melarang dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung"(Ali Imron:104)

  1. TASFHIYAH DAN TARBIYAH
Pilar ini masih termasuk dalam pilar sebelumnya dan dakwah Islam dibangun diatas pilar ini.
Tasfhiyah adalah pemurnian akidah (keyakinan) dan amalan dari hal-hal yang datang diluar Islam yang menyelisihi syariat, seperti takhoyul, khurofat, dan hal-hal yang tidak pernah diajarkan dalam Islam namun dinisbatkan kepadanya. Sedangkan Tarbiyah adalah bimbingan dan pengajaran kepada pribadi muslim untuk senantiasa hidup dibawah naungan syariat dan berpegang teguh dengannya.
 Pilar ini adalah tanggung jawab bagi semua individu dan masyarakat agar terjaga keutuhan akidah dari segala yang berseberangan dengannya. Semua kita akan dimintai pertanggungjawaban atas diri kita, keluarga, dan masyarakat.
Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin" (HR. Al Bukhori)
Alloh berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (At Tahrim :6)

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Alloh,.. Inilah 6 pilar didalam Islam untuk menjaga keutuhan Islam kita agar menjadi hamba-hamba Alloh yang diridhoi dan memperoleh surga-Nya. Semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang istiqomah dalam menjalani Islam ini sehingga berjumpa dengan Alloh Ta`ala. Wallohu a`lam bishowab.   
    
Sumber:
  1. Sittu Durror min Usuli Ahlil Atsar –Syaikh Abdul Malik Romadhoni
  2. Ushulust Tsalatsah- Syaikh Muhammad At Tamimi
  3. Al Amru bil Ma`ruf wan Nahyu `anil Munkar- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dll.

Rabu, 10 Juli 2013

Buah Cinta Rasul


BUAH CINTA RASUL

Kaum muslimin rahimakumullah,
            Kalau kita bertanya pada setiap muslim, “Apakah engkau cinta kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam?” Niscaya mereka akan menjawab, “Tentu, saya mencintainya.”
            Namun, permasalahannya adalah: apakah kita semua sudah tahu, bagaimana cara mencintai beliau? Dan apa saja konsekuensi dari cinta Rasul?
            Itulah yang insya Alloh akan saya uraikan pada kesempatan ini, yaitu: cara mencintai Rasul kita dan konsekuensi dari cinta Rasul tersebut. Karena jangan sampai kita mengaku cinta kepadanya, tapi malah kita ‘sembrono’ atau bahkan melanggar petunjuknya.
            Di antara kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah: kita harus mengakui dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Alloh yang diutus untuk seluruh manusia sebagai penutup para nabi sebelumnya.
            Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ 
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa’". [QS. Al-Kahfi: 110]
            Pada ayat yang lain Alloh 'Azza wa Jalla berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ 
Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” [QS. Al-Ahzab: 40]
            Dua ayat di atas menunjukkan pada kita bahwa kedudukan beliau sebagai seorang hamba tidak mungkin naik derajatnya menjadi tuhan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan orang yang bertawassul atau istighotsah kepadanya. Alloh Subhanahu wa Ta'ala sendiri menolak hal tersebut dalam firman-Nya:
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا  
Artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan’". [QS. Al-Jin: 21]
            Terus, apa saja konsekuensi dari cinta Rasul? Apa saja kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap mukmin yang bersaksi bahwasannya ‘Muhammad adalah utusan Alloh’?
            Hal-hal yang wajib diwujudkan sebagai konsekuensi dari syahadat Rasul adalah:
1.      Membenarkan Semua Berita yang Datang dari Rasulullah
Kita tidak boleh meragukan, apalagi mendustakan berita-berita dari beliau dengan alasan berita itu bertentangan dengan akal atau zaman. Karena tidaklah Rasulullah menyampaikan berita itu, melainkan berasal dari wahyu yang Alloh turunkan padanya.
Alloh Subahanahu wa Ta'ala telah berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى  
Artinya: “Dan Tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. An-Najm: 3-4]

Di antara berita darinya yang wajib kita imani yaitu: berita tentang tanda-tanda hari kiamat, seperti munculnya Dajjal dan turunnya Isa al-Masih, berita tentang nikmat dan siksa kubur, serta berita-berita ghaib lainnya.
2.      Menaati Rasulullah
Ketaatan padanya merupakan perwujudan sikap pengakuan terhadap kerasulan beliau. Alloh 'Azza wa Jalla telah berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ  
Artinya: “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” [QS. An-Nisa: 80]
Ketaatan kepada Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meliputi dua sisi, yaitu:
a.      Dengan Menjalankan Perintah-perintahnya
Sudah seharusnya kita melaksanakan perintah-perintah beliau sebagaimana wasiat beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
«فإذا أمرتكم بشيء فأتوا منه ما استطعتم»
Artinya: “Jika aku perintahkan sesuatu maka laksanakanlah sesuai dengan kemampuanmu.” [HR. Muslim: 1337]
Jangan sampai kita menolak perintah beliau, hanya karena secara kasat mata hadits beliau bertentangan dengan akal. Karena kalau sampai terjadi pertentangan  antara hadits dengan akal kita, padahal hadits tersebut shahih, maka sesungguhnya akal kitalah yang lemah; tidak mampu mencerna hadits tersebut sesuai dengan tuntutan.
Misal saja: perintah beliau untuk mencelupkan lalat yang jatuh dalam minuman baru kemudian dibuang, dan perintah beliau  untuk menjilat tangan setelah selesai makan. Walaupun secara kasat mata perintah tersebut bertentangan dengan akal (jorok), tapi ternyata setelah diadakan penelitian oleh para ilmuan, di sana ada hikmah yang luar biasa bagi kesehatan manusia.
b.      Dengan Menjauhi Seluruh Larangannya
Sebab adanya larangan tersebut adalah untuk mencegah manusia dari berbagai kerusakan yang membinasakanya sendiri, baik di dunia maupun di akherat.
Diantara larangan beliau yang mana kebanyakan umat Islam belum memperhatikannya misalnya: larangan dari memakan harta riba, mendengarkan musik, isbal (memanjangkan celana / pakaian melebihi mata kaki) bagi laki-laki, dan larangan dari menyerupai/ tasyabbuh dengan orang-orang kafir, baik dari segi pakaian, hukum, maupun adat kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka.
Alloh Subahanahu wa Ta'ala telah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 
Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” [QS. Al-Hasr: 7]
3.      Berhukum kepada Sunnah Rasulallah
Sebagaimana Alloh 'Azza wa Jalla telah berfirman:
Ÿفَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 
Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ” [QS. An-Nisaa: 65]
            Itulah tiga konsekuensi dari Syahadat Rasul yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku bahwa dia cinta kepada baginda Nabi. Barangsiapa yang berusaha untuk mengamalkan tiga konsekuensi tersebut, niscaya dia tidak akan taklid buta/ fanatik sempit, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ulama kita; walaupun mereka berselisih pendapat dalam suatu permasalahan, tapi mereka tetap menjaga persatuan di antara mereka. Di antaranya Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
(إذا صحّ الحديث فهو مذهبي)
“Jika ada hadits yang shahih, maka itu adalah madzhabku.”
(كلّ حديث عن النّبي  فهو قولي, وإن لم تسمعوا منّي)
“Setiap hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah pendapatku, walaupun kalian belum pernah mendengarnya dariku.”
            Dengan mewujudkan 3 konsekuensi di atas niscaya akan tumbuh rasa cinta kita kepada Rasulallah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang mana dengan cinta itu, kita akan mendapatkan buahnya, yaitu:
1.      Kita akan merasakan manisnya iman
Sebagaimana yang diisyarat dalam hadits Nabi :
« ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
Artinya: “Ada tiga perkara, barangsiapa yang melakukan tiga perkara tersebut niscaya ia akan merasakan manisnya iman: Hendaknya Alloh dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, hendaknya dia mencintai seseorang karena Alloh dan hendaknya dia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika hendak dilemparkan ke dalam neraka.” [HR. Bukhari: 6941 dan Muslim: 43]


2.    Dikumpulkan bersama beliau dalam surga
          Dari Anas bin malik radliallahu 'anhu berkata:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ؟» قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُولِهِ، قَالَ: «فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Datang seorang menemui Rasulallah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bertanya: ‘Wahai Rasulallah kapan hari kiamat terjadi?’ Beliau balik bertanya: ‘Apa yang engkau siapkan untuk menghadapi hari kiamat tersebut?’ Dia menjawab: ‘Cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya.’ Maka Rasulallah bersabda: ‘Sesungguhnya engkau kelak bersama orang yang engkau cintai (di surga).” [HR. Muslim: 2639]


Referensi:      1. Al-Qur’an Al-Karim
                        2. Shahih Bukhari
                        3. Shahih Muslim
                        4. Shahih Fiqh Sunnah
                        5. ‘Aqidah Tauhid
 

_______________
Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.