Halaman

Minggu, 12 Januari 2014

Persembahan Untuk Buah Hati



بسم الله الرحمن الرحيم
        الحمد لله ربّ العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
            Segala puji hanya bagi Alloh Subhanahu wa Ta'ala atas segala karunia yang diberikan kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam, para keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat.
            Sangat membahagiakan, ketika apa yang kita harapkan dan kita idam-idamkan menjadi sebuah kenyataan. Tidak sedikit di antara kita, selama bertahun-tahun menanti kehadiran sang buah hati dalam kehidupanya; segala daya dan upaya telah dilakukan, namun tak jua ia raih.
            Merupakan kenikmatan yang agung bagi orang yang telah dikaruniai seorang anak. Namun, sebagai orang tua jangan sampai kita lalai untuk mendidik sang buah hati agar menjadi anak yang sholeh. Jangan sampai karunia yang agung tersebut berubah menjadi bencana, lantaran keliru dalam mendidiknya.
Alloh 'Azza wa Jalla berfirman :
}إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ{
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian, dan di sisi Alloh ada balasan yang agung.” (1)
            Oleh karena itu, sudah seharusnya kita persembahkan bagi putra-putri kita pendidikan dini yang sesuai dengan petunjuk Alloh dan Rasul-Nya.

A. Masa Persiapan
            Islam adalah agama yang sempurna; rahmat bagi seluruh alam. Pendidikan anak dimulai sejak pertama kali seorang laki-laki memilih calon istri, dan bagaimana mulai menjalin hubunganya.
            Hendaklah pasangan suami istri berikhtiar untuk mendapatkan keturunan dengan cara yang syar’i; menjauhi perbuatan yang menyalahi syariat (seperti: minta bantuan ke `dukun`).

B. Masa Mengandung
            Sudah seharusnya seorang wanita yang sedang hamil, menjaga kesehatan dirinya dan kandunganya; dengan mencukupi asupan gizi (tidak sekedar kesehatan jasmani tapi juga kesehatan rohani, seperti: memperbanyak amal sholeh, membaca maupun mendengarkan lantunan al-Qur`an, serta menjauhi dari mendengarkan musik).

C. Ketika Bayi Lahir
            Waktu yang dinanti akhirnya datang juga, ketika kelelahan seorang ibu mengandung selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari terbayar sudah, dengan lahirnya si mungil. Keletihan seorang ayah dalam mencari nafkah demi lahirnya sang buah hati, terbayar lunas dengan tangisan pertamanya yang masih berwarna merah.
            Tiba waktunya bagi kedua orang tua untuk mempersembahkan kado istimewa bagi buah hati, yang akan dibawanya hingga akhir hayat. Tentunya sesuai dengan yang dikehendaki oleh Sang Kholiq pemilik kehidupan ini, serta berpedoman kepada petunjuk kekasih hati baginda Rasul Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam. Seraya berhati-hati dari adat-istiadat atau pun norma yang menyimpang, atau bahkan dapat menjerumuskanya ke dalam api neraka. Inilah beberapa kado terindah syari’at  Islam untuk kita persembahkan kepada buah hati :

11.      Adzan di Telinga Sebelah Kanan Bayi
Hal ini sesuai dengan hadits Abdulloh bin Abi Rofi’ radliallohu 'anhu :
عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ »
Dari Abdulloh bin Abi Rofi’ radliallohu 'anhu, dari ayahnya, ia berkata : “Saya melihat Rasululloh Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkanya.” (2)
22.      Tahnik
Yaitu : mengunyah kurma sampai lembut, kemudian menyuapi sang buah hati dengan kurma tersebut. Amalan ini banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin saat ini. Padahal hal itu dicontohkan Nabi Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam, dan di sana terdapat hikmah yang luar biasa, terutama hikmah kesehatan. Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: «وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ»
Dari Abi Musa radliallohu 'anhu berkata : “(Ketika) anakku lahir, aku mendatangi Rosululloh Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam, maka beliau menamainya Ibrahim dan men-tahnik-nya dengan kurma.” (3)
33.      Mencukur Rambut Kepala (Bayi Laki-laki)  dan Bersedekah dengan Perak Seberat Timbangan Rambut Tersebut
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ali radliallohu 'anhu :
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، وَتَصَدَّقِي بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً»، قَالَ: فَوَزَنَتْهُ فَكَانَ وَزْنُهُ دِرْهَمًا أَوْ بَعْضَ دِرْهَم.
Dari Ali bin Abi Tholib berkata: “Rosululloh Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam meng-aqiqoh-i Hasan dengan domba, beliau bersabda: “Wahai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya,dan bersedekahlah dengan perak seukuran dengan timbanganya!”” Berkata Ali: “Kemudian aku menimbangnya dan ternyata timbanganya satu dirham atau lebih.” (4)
Catatan: 1 dirham = ± 2,975 gr
44.      Aqiqoh
Yaitu menyembelih kambing (2 ekor untuk anak laki-laki/ 1 ekor untuk anak perempuan) pada hari ke-7 dari kelahiran bayi/ hari ke-14/ hari ke-21 (berdasarkan hitungan kalender hijriyah), atau pun hari-hari setelahnya ketika sang orang tua memiliki kesanggupan.
Dalam hal ini Nabi Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
«كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »
“Setiap anak yang lahir tergadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ke tujuh (dari kelahiranya), dicukur habis rambut kepalanya dan diberi nama.” (5)
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
« عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاة »
“(Aqiqah) untuk bayi laki-laki dua ekor domba (yang seumur), dan untuk bayi perempuan satu ekor domba.” (6)

55.      Memberi Nama yang Baik
Hendaklah kita menamai anak kita dengan nama-nama yang baik dan mengandung doa, serta tidak mengandung unsur nama-nama yang haram atau pun makruh, seperti:
aa.       Menyandarkan nama “Abdu” kepada selain Alloh, seperti: Abdun Nabi, Abdu Ali, Abdul Husain
bb.      Memberi nama dengan nama-nama khusus bagi Alloh, seperti: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Khaliq, Al-Ghofur
cc.       Memberi nama dengan nama-nama khusus orang kafir, seperti: Kristian, Gusti, Dewa/ Dewi, Petrus, George
dd.      Memberi nama dengan nama-nama berhala, seperti: Lata, Uzza, Na`ilah, dsb.(7)
Karena dalam hal ini Islam telah memberi kita tuntunan, di samping karena nama seseorang sedikit banyak akan mempengaruhi psikologi pemiliknya.
Dalam sebuah hadits disebutkan :
«إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ، وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ، فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ»                                
“Sesungguhnya pada hari kiamat kalian dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka baguskanlah nama kalian.” (8)
66.      Khitan
Baik bagi anak laki-laki maupun perempuan, yaitu dengan memotong kulup/kulit yang menutupi kepala kemaluan anak laki-laki, atau mengurangi sedikit dari ujung pertemuan dua bibir kemaluan anak perempuan(clitoris). Hal ini baik sekali dilakukan ketika sang anak masih bayi/kecil, karena akan lebih terjaga kebersihanya, dan menjadi wajib hukumnya ketika ia (anak laki-laki) mencapai usia aqil baligh. Hal ini disyariatkan di dalam agama Islam, sebagaimana sabda Nabi Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam :
«الفِطْرَةُ خَمْسٌ: الخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ»
“Fitrah (naluri kesucian) manusia itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut rambut ketiak, memotong kumis dan memotong kuku.” (9)
Dan dalil tentang disyari’atkannya khitan bagi perempuan, adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah radliallohu 'anha
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ، أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ، وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ»
Dari Ummi ‘Athiyah al-Anshariyah radliallohu 'anha, bahwasanya ada seorang wanita yang dikhitan di kota Madinah, maka Rasululloh Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam bersabda padanya: “(Jika engkau khitan maka) janganlah berlebihan, karena hal itu lebih utama bagi perempuan, dan lebih disukai suami.” (10)
77.      Melubangi Telinga Bayi Perempuan
Hal itu berkenaan dengan hak perempuan untuk memakai perhiasan. Lain halnya dengan laki-laki maka tidak ada anjuran bagi mereka. Bahkan bisa terjatuh pada perbuatan tasyabbuh/ menyerupai wanita; yang mana perbuatan tersebut terlarang -sebagaimana yang terjadi pada zaman sekarang-. Dan itu diantara tanda dekatnya hari kiamat, berdasarkan sebuah hadits:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»
Dari Ibnu Abbas radliallohu 'anhu berkata: “Rasululloh Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam melaknat para lelaki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (11)

D. Masa Kanak-kanak
              Ketika sang buah hati mulai tumbuh kembang menjadi kanak-kanak, maka kewajiban orang tua adalah untuk mendidiknya dengan pendidikan yang islami; membekalinya dengan akhlak mulia dan pendidikan dasar tentang Islam. Agar anak-anak kita kelak tumbuh menjadi orang yang sholih/sholihah dan berbakti pada orang tua.

E. Seputar Adat yang Tidak Sesuai dengan Tuntunan Syariat
              Tersebar di manyarakat kita -yang notabene pemeluk agama Islam- adat istiadat yang berkaitan dengan kandungan maupun kelahiran sang bayi. Yang mana pada dasarnya hal itu semua bukan dari ajaran Islam, yang cenderung meyelisihi petunjuk Alloh 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam, di antaranya:
- Mupati (Selamatan ketika kandungan berusia 4 bulan)
- Keba (Selamatan ketika kandungan berusia 7 bulan)
- Membacakan Surat Maryam/ Yusuf (dengan keyakinan supaya anak yang lahir cantik/ tampan)
- Membacakan kitab Berzanji
- Menggantung ari-ari dan memberi penerangan khusus untuknya (serta keyakinan-keyakinan tertentu yang berkaitan dengan ari-ari)
- Mencukur sebagian rambut kepala dan meninggalkan sebagianya (al-qoza’)
- Menaruh sesaji di bawah tempat tidur bayi (biasanya berupa: mangkuk berisi air, `godong tawa`, uang logam, dll)
- Memakaikan gelang/ kalung (tamimah) pada bayi (untuk menolak bala/ marabahaya)
- Sang ibu senantiasa mambawa gunting (dengan keyakinan agar tidak diganggu jin/ syetan)
- `Among-among` setiap hari `weton`/ kelahiran bayi (selamatan setiap `selapan dina`/ 35 hari) dengan tujuan untuk mendapat keselamatan dan menolak bala
- `Dun-dunan` (Mengurung anak dan menyediakan macam-macam barang untuk dipilih, untuk mengetahui nasibnya ketika dewasa kelak)(12)
Pada dasarnya semua itu adalah adat peninggalan nenek moyang kita yang beragama Hindu/ Budha yang kemudian diadopsi oleh umat Islam (ditiru dan dibumbui dengan sesuatu yang berbau Islam).
            Tentunya kita sebagai orang Islam harus memurnikan ajaran kita dari segala sesuatu yang bertentangan dengan petunjuk Nabi kita. Karena kita tahu bahwasanya ibadah itu tidak akan diterima di sisi Alloh melainkan harus memenuhi dua syarat, yaitu:
1a.      Dilakukan dengan ikhlas (semata-mata karena mengharap ridho Alloh)
2b.      Mutaba’ah (sesuai dengan petunjuk Nabi kita Muhammad Shallalllohu 'Alaihi wa Sallam)
Karena itulah hakekat pengamalan syahadat kita: (أشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ، وأنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ).
            Dan akhirnya tibalah kami mengakhiri goresan pena ini, dengan harapan apa yang terkandung dalam lembaran yang sedikit ini, dapat memberikan pencerahan tentang kado apa yang akan kita persembahkan untuk buah hati kita sesuai dengan syari’at agama yang mulia ini. Wallohu A’lam bish showab.(13)


                                                                                                            Jakarta, 1 Shafar 1435 H
                                                                                                            Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.


(1) [Q.S. at-Taghabun: 15]
(2) [H.R. Abu Dawud: 5105 dan Tirmidzi: 1514, hadits dhoif (Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, no: 321 dan 6121)]
(3) [H.R. Muslim: 2154]
(4) [H.R. Tirmidzi: 1519, hadits hasan. Lihat Irwaul Gholil: IV/383]
(5) [H.R. Abu Dawud: 2838, hadits shohih]
(6) [H.R. Abu Dawud: 2834 dan yang lainnya, hadits shahih]
(7) Lihat lebih lanjut: Kitab “Tasmiyah al-Maulud” karya: Syeikh Bakr bin Abdulloh Abu Zaid, hlm. 45-58, Cet. Darul ‘Ashimah
(8) [H.R. Abu Dawud: 4948 dan Ahmad: 21693, hadits dho’if]
(9) [H.R. Bukhari: 6297]
(10)[H.R. Abu Dawud: 5271, hadits shahih]
(11) [H.R. Bukhari: 5885]
(12) Dan adat-adat lainnya yang tersebar (khususnya di Pulau Jawa) yang tidak bisa kami sebutkan semua, mungkin tiap-tiap daerah mempunyai adat-istiadat yang berbeda
(13) Rujukan utama: Kitab “Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud” karya: Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah

Selasa, 23 Juli 2013

Perjalanan Ruh Setelah Mati

            Telah tersebar di masyarakat kita sebuah keyakinan yang melekat di hati mereka, bahwa ruh orang yang telah meninggal dunia karena mati penasaran bisa gentayangan untuk menakut-nakuti manusia maupun sekedar menengok keluarga yang ditinggalkannya, pada malam Jum’at.
            Benarkah itu adanya?


            Masalah ruh merupakan perkara ghaib, tidak mungkin kita mengetahui dengan pasti, hanya berdasarkan perkataan nenek moyang, melainkan harus dengan dalil yang datangnya dari Yang Maha Mengetahui.
            Alloh Subahanahu wa Ta'ala telah berfirman:
}وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا{
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". [QS. Al-Israa`: 85]
            Oleh Karena itu, untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali kepada petunjuk Al-Qur`an dan As-Sunnah, karena akal kita terbatas tidak mampu mencerna hal semacam ini.
            Itulah hikmah kenapa Alloh merahasiakan masalah ruh; untuk menyadarkan kita akan kelemahan akal kita dari pengetahuan tentang makhluk yang berada dalam diri kita sendiri (ruh kita), apalagi tentang penciptanya, tentu lebih tidak mengetahuinya. Seandainya kita sadar akan hal itu, niscaya kita tidak berlaku sombong dan selalu menimbang baik-buruk suatu perkara dengan syari’at, tidak dengan hawa nafsunya. [Lihat: Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an jilid: 10, hlm. 283]

1. Perjalanan Ruh Orang Mukmin
            Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa: ketika seorang mukmin meninggal, maka turunlah malaikat dengan wajah putih bersinar dengan membawa kain kafan & kamfer dari surga.
            Kemudian, datanglah malaikat maut seraya berkata: “Wahai ruh yang baik keluarlah kamu menuju ampunan Alloh dan keridloan-Nya.” Maka ruh itu pun keluar dari jasadnya sebagaimana menetesnya air yang keluar dari mulut cerek, lalu diletakkan di atas kain kafan dari surga yang menyebarkan bau harum minyak kasturi.
            Para malaikta membawanya naik ke langit dan tidaklah ruh itu melewati seorang malaikat, melainkan malaikat tersebut akan bertanya: “Ruh siapakah yang menyebarkan bau harum ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab: “(Ruh) fulan bin fulan” –mereka menyebutkan nama panggilannya yang baik.
            Sesampai langit ke tujuh mereka berhenti, kemudian Alloh 'Azza wa Jalla berfirman: “Catatlah buku catatan amal hamba-Ku ini di ‘illiyyin’” (yaitu: buku catatan amal shalih orang-orang mukmin).
            Selanjutnya Alloh berfirman: “Kembalikanlah ruh ini ke bumi, karena Aku telah berjanji bahwa darinya Aku menciptakan mereka, padanya Aku mengembalikan mereka dan darinya Aku mengeluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”
            Kemudian ruh itu dikembalikan ke bumi dan dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya dan bertanya padanya: “Siapa Robbmu?” Ia menjawab: “Tuhanku Alloh” Keduanya bertanya: “Apa agamamu?” Ia menjawab: “Agamaku Islam” Keduanya bertanya: “Siapakah laki-laki yang telah diutus di tengah-tengah kamu?” Ia menjawab: “Ia adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam” Keduanya bertanya: “Apa yang telah kamu lakukan?” Ia menjawab: “Aku membaca Kitab Alloh (Al-Qur`an), kemudian aku mengimaninya serta membenarkannya.”
            Lalu dihamparkan baginya permadani di surga, dipakaikan baju dari surga dan dibukakan baginya pintu surga. Maka terciumlah bau harum surga serta diluaskan kuburnya sejauh mata memandang.
            Setelah itu datanglah amal shalihnya dalam bentuk laki-laki rupawan menemaninya dan diperlihatkan baginya kenikmatan-kenikmatan surga, sehingga ia sangat merindukan hari kiamat dan memohon kepada Alloh agar menyegerakan datangnya hari kiamat.

2. Perjalanan Ruh Orang Durhaka/ Kafir
            Ketika orang yang durhaka/ kafir meninggal, turunlah kepadanya para malaikat yang kasar lagi keras dengan wajah hitam pekat dan membawa kain kafan yang kasar dari neraka. Kemudian datanglah malaikat maut berkata padanya: “Wahai ruh yang jelek keluarlah menuju kemurkaan serta kebencian Alloh!”
            Malaikat maut itu memaksa ruh tersebut untuk berpisah dengan jasadnya dan mencabutnya bagaikan mencabut besi tusukan daging yang banyak cabangnya dari bulu domba yang basah, dimana urat-urat sarafnya ikut terputus bersamaan dengan tercabutnya ruh.
            Kemudian ruh tersebut diletakkan di atas kafan dari neraka, lalu dibawa naik (ke langit) dan tersebarlah bau busuk. Setiap kali melewati malaikat mereka bertanya: “Ruh siapakah yang jelek ini?” Setibanya di pintu langit dunia, malaikat penjaganya tidak mau membukakan pintu baginya.
            Setelah itu, ruh tersebut dilemparkan ke dasar bumi hingga menimpa jasadnya. Maka datanglah dua malaikat seraya membentak dan mendudukannya seraya bertanya: “Siapa Rabbmu?” Ruh yang durhaka tadi hanya bisa menjawab: “Hah…hah…aku tidak tahu.” Kedua malaikat bertanya lagi: “Apa agamu?” Ia menjawab: “Hah…hah…aku tidak tahu.” Keduanya bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang diutus di tengah-tengah kamu?” Ia pun tidak ingat sama sekali namanya dan tidak mengetahuinya. Lalu dihamparkan baginya permadani dari neraka dan dibukakan baginya pintu neraka, sehingga ia merasakan panas hembusan api neraka dan angin panasnya. Kemudian kuburnya menghimpitnya, sehingga tulang rusuknya hancur berantakan.
            Setelah itu datanglah amal buruknya dalam rupa manusia yang berwajah buruk, pakaiannya compang-camping dan berbau busuk seraya berkata padanya: “Aku ini adalah amalmu yang jelek. Demi Alloh, aku tidak mengetahuimu selain kamu adalah orang yang selalu melalaikan ketaatan kepada Alloh serta senantiasa bermaksiat kepada-Nya, sehingga Alloh membalasmu dengan kejelekan.”
            Kemudian orang (buruk rupa) tadi berubah menjadi buta, tuli dan bisu, tangannya menggenggam palu godam yang jika gunung dipukul dengannya akan hancur.
            Lalu dipukullah orang durhaka tadi dengan palu godam tersebut sehingga hancur menjadi tanah, iapun menjerit keras sekali yang didengar oleh setiap makhluk kecuali manusia dan jin. Alloh pun mengulang-ulang kejadian tersebut; setelah hancur dikembalikan lagi, setelah hancur dikembalikan lagi. Sehingga orang yang durhaka tadi berkat: “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau melaksanakan kiamat.” [Diringkas dari Riwayat Imam Ahmad: IV/287, hadits shahih]
            Demikianlah perjalanan ruh orang mukmin dan orang durhaka antara bumi dan langit, hingga mereka ditanya oleh kedua malaikat (Munkar dan Nakir).
            Para ulama sepakat, bahwa setelah jenazah dimasukkan ke liang kubur, maka ia akan akan menerima kenikmatan kubur atau adzabnya, dimana hal itu akan dirasakan ruh dan jasadnya.
            Ruh akan tetap merasakan nikmat atau adzab kubur setelah ia berpisah dari jasadnya, serta sekali-kali ia berhubungan dengan jasadnya, sehingga ia bersama jasad merasakan nikmat/ adzab kubur.
            Setelah kiamat terjadi, ruh dikembalikan ke dalam jasad dan bangkit dari kubur mereka untuk menghadap Rabb semesta alam.

Kebenaran Siksa Kubur dan Neraka
            Siksa kubur dan api neraka merupakan perkara yang nyata dan benar adanya. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah sabda Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berbunyi:
«يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»
Artinya: “Keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar.” Nabi berkata: “Padahal itu dosa besar, dimana salah satu dari keduanya tidak menjaga diri dari air kencing, dan yang lain suka mengadu domba.” [HR. Bukhari: 216]
            Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memperingatkan kita agar senantiasa berlindung dari siksa kubur terutama saat tasyahhud akhir sebelum salam:
«إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»
Artinya: “Jika salah seorang di antar kamu telah selesai tasyahhud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Alloh dari empat hal: dari siksa api neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan setelah mati serta dari fitnah Dajjal.” [HR. Muslim: 588]
            Oleh karena itu, kita harus mengetahui sebab-sebab diadzabnya seseorang dalam kubur agar kita segera meninggalkannya, dan sebab-sebab diselamatkan darinya agar kita bisa melakukannya.

1.     Sebab-sebab mendapatkan adzab kubur 
Yaitu: karena melalaikan perintah-Nya dan bermaksiat pada-Nya, seperti: mengadu domba, menggunjing, sombong, memakan harta riba, meninggalkan shalat, zakat maupun puasa, curang ketika menakar, serta kemaksiatan lainnya yang dilakukan oleh hati, mata, telinga, mulut, lidah, perut, kemaluan, tangan, kaki dan badan secara keseluruhan.

2.     Sebab-sebab dilindungi dari adzab kubur
Secara garis besar yaitu dengan menghindari sebab-sebab yang mendatangkan adzab kubur dan memperbanyak melakukan ketaatan kepada Alloh 'Azza wa Jalla, mengikuti sunnah/ petunjuk Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta bartaubat dari segala dosa dan maksiat.
            Akhirnya, semoga Alloh Subahanahu wa Ta'ala menjadikan kuburan kita semua dan kuburan segenap kaum muslimin sebagai sebuah taman dari pertmanan surga dan melindungi kita dari segala fitnah yang mengancam kita. Amiin…

_______________
Penulis: Nopi Indrianto, B.Sh., M.H.
(Founder Nir EduCon Solutions - Konsultasi Waris @nireducon)

Referensi:  - Al-Qur`an Al-Karim
                        - Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an
                        - Shahih Bukhari
                        - Shahih Muslim
                        - Musnad Imam Ahmad
- Perjalanan Ruh Setelah Mati, karya: Khalid bin Abdurrahman asy-Syayi’.